Sabtu, 31 Januari 2009

Fashion Business: Fashion Forecasting

Fashion Business: Fashion Forecasting

Tadinya ingin membahas sedikit tentang seminar Trend Forcast Spring Summer 2008 dari Carlins yang saya hadiri waktu itu. Tetapi waktu sedang membuka blog pribadi saya, tiba - tiba saya menemukan artikel yang sudah menggambarkan dengan jelas apa yg ingin saya gambarkan sekarang ini. Artikel ini sebetulnya sudah saya tulis sejak 3 July 2006, lebih dari setahun yang lalu, tapi intinya masih tetap berlaku walaupun mungkin kurang detail.

Tadi sore sewaktu membuka e-mail, ada e-invitation dari WGSN untuk hadir ke acara cocktail drink dan mini seminar-nya di Hong Kong pertengahan bulan ini, yang akan membahas tentang fashion trend and fashion forecast selama beberapa season ke depan.

Sebenarnya cukup menarik, karena di sana seharusnya akan berkumpul ratusan atau mungkin ribuan pelaku dan pekerja fashion, mulai dari tingkatan stylist, designer, forecaster, sampai merchandiser, buyer, bahkan produsen dan para manufacturer kelas dunia, karena client perusahaan itu adalah perusahaan fashion kelas dunia. Tapi karena saya sendiri belum menghubungi pihak mereka, maka saya belum tahu jelas akan sebesar apa acaranya, dan tidak bisa memastikan apakah akan dibuat sebagai pertemuan atau seminar secara internasional, atau khusus untuk daerah Asia saja. Acara itu sendiri dikhususkan untuk member dengan restriction invitation only.

Selain kesempatan memperbesar jalur networking secara internasional, tentu saja yang paling menarik adalah seminar forecasting dan sistem yang akan digunakan itu. Hal ini disebabkan, selain forecasting itu adalah topik utama bahasan seminarnya, juga dikarenakan segala hal tentang fashion forecasting ini sendiri masih awam di Indonesia. Mungkin beberapa perusahaan multinasional dan internasional sudah menggunakannya, tetapi sejauh yang saya tahu, perusahaan – perusahaan lokal belum menggunakannya, dan bahkan tidak familiar sama sekali dengan sistem forecast, ataupun profesi sebagai fashion forecaster.

Selama ini kebanyakan pelaku fashion lokal, baik berupa apparel, bedding, interior, maupun dari pihak manufacturer, designer, buyer, media dan lainnya, kebanyakan mengambil informasi mengenai fashion dari luar negeri. Mari kita persempit topik bahasan menjadi khusus untuk bidang dan industri fashion apparel. Pernahkah anda berpikir, darimana orang – orang luar negeri itu mendapatkan informasi lebih cepat mengenai trend – trend terbaru yang akan digemari di seluruh dunia? Atau bagaimanakah rumah mode – rumah mode di seluruh Eropa bisa bergabung secara seragam mengusung Victorian style?

Bagaimana para desainer dunia bisa beramai – ramai bersatu padu menggunakan elemen batu Turquoise sebagai aksesoris, elemen fashion, dan lainnya? Bagaimana kumpulan atau persatuan fashion di Eropa sana bisa dengan tepat menyelaraskan proses produksi kain – kain bermotif vintage dengan gaya retro vintage atau classic vintage yang berbarengan dengan minat dan gaya desainer – desainer untuk mengusung gaya vintage secara mendunia?

Atau mungkin yang paling mudah adalah, bagaimana para desainer dan rumah mode dunia bisa menciptakan dan mempersiapkan trend dan sample – sample fashion runway untuk Spring-Summer 07 padahal sekarang ini baru saja Spring – Summer 06? Bagaimana mereka bisa mengetahui bahwa model – model itu akan diminati di seluruh dunia, dan sambutan customer akan sangat baik terhadap semua itu?

Karena trend? Betul. Tapi trend tidak datang bersama angin. Trend datang bersama kerjasama yang baik untuk mempopulerkan sesuatu. Sesuatu bisa disebut trend karena banyak peminatnya, banyak pemakainya, dapat terlihat di mana – mana, oleh karenanya baru bisa dikatakan sebagai trend. Mungkin para komunitas indie akan menyebutnya mass taste. Dan ya, itu berarti pasaran. Tapi memang begitulah trend itu tercipta.

Dan bagaimana menentukan trend? Di sinilah fungsi forecasting. Dan di sinilah fungsi perusahaan – perusahaan forecasting. Sebagaimana arti sebenarnya, forecasting berarti: tell in advance (what is likely to happen) – Oxford Dictionary, yang berarti memprediksikan atau memberitahukan sejak awal apa yang akan terjadi. Jadi fashion forecasting berarti memprediksikan atau memberi informasi akan sesuatu yang akan menjadi trend atau digemari di masa yang akan datang.

Informasi akan sesuatu itu bisa berupa trend warna yang akan disukai pada musim tertentu, trend kain dan motif yang disukai, trend style tertentu, dan lain sebagainya. Kedengarannya mudah, tapi anda akan kaget apabila mengetahui betapa rumitnya itu semua. Mungkin untuk memperjelas, menentukan trend nya itu sendiri memang cukup mudah, tetapi memastikan bahwa trend itu yang benar – benar akan menjadi trend dan LARIS MANIS, itu yang saya yakin anda semua setuju, tidak mudah.

Kebanyakan orang mengira bahwa trend dan segala sesuatu tentang fashion adalah berasal dari desainer. Dan kebanyakan memperkirakan bahwa desainer lah yang menentukan segala hal mulai dari warna, jenis kain, pemilihan kain, hingga selera pasar, dll. Apabila satu rumah mode, satu brand, atau satu desainer menjadi favorit dunia, maka itu adalah kehebatan sang desainer. Memang tidak dipungkiri, kepiawaian sang desainer sangat penting dalam sebuah karya. Tetapi di balik semua itu, untuk proses sebuah perusahaan berskala besar, peran desainer hanyalah satu bagian kecil dari keseluruhan proses.

Memang, biasanya para desainer lulusan sekolah mode sudah dibekali dan diajarkan bagaimana untuk melakukan forecasting yang paling dasar. Minimal biasanya diajarkan bagaimana memprediksikan trend hingga untuk satu season ke depan. Yang paling umum, saat musim sekarang adalah Spring – Summer, maka desainer seharusnya sudah bisa memprediksikan trend untuk Fall – Winter di tahun yang sama, karena apabila desainer telah atau berniat untuk melakukan transaksi secara global, maka sample – sample untuk satu musim di depan sudah harus dikirimkan kepada agen- agen, buyer butik, dan buyer dari dept.store, sejak satu musim sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi proses produksi yang biasanya memakan waktu 3 - 4 bulan untuk satu koleksi hingga siap dipajang di toko atau butik. Belum lagi apabila koleksi tersebut harus dikirimkan ke luar negeri yang tentu memerlukan waktu pengiriman sekitar 1-2 minggu melalui udara atau 1-1,5 bulan melalui laut.

Namun apabila kita berbicara mengenai perusahaan fashion besar, multinasional, rumah mode internasional, dengan ratusan atau bahkan ribuan cabang yang tersebar di seluruh dunia, prediksi satu musim ke depan saja tentu tidak akan berguna. Dengan skala resiko yang besar, perusahaan harus memastikan bahwa apa yang mereka produksi, apa yang mereka jual, apa yang mereka tawarkan, akan dilahap habis oleh para customer. Perusahaan – perusahaan itu juga harus memastikan bahwa koleksi mereka untuk musim ini akan memiliki benang merah dengan koleksi musim depan, dan begitu seterusnya. Dengan begitu, dalam setiap perpindahan musim, kain – kain dan motif – motif yang telah digunakan masih bisa digunakan kembali dengan pengaplikasian yang berbeda.

Hal ini juga dilakukan untuk memastikan agar customer terus kembali dan membeli produk mereka dikarenakan sebuah alasan “eh, yg ini cocok tuh sama yg waktu itu aku beli di sini”.., anda tentu sangat familiar dengan kalimat itu bukan? Dan tanpa sadar tahu – tahu anda sudah menjadi salah satu customer loyal brand atau desainer tertentu hanya karena anda selalu bisa menemukan padanan untuk produk yang telah anda miliki sebelumnya.

Jadi setelah sepanjang ini, siapa pemain di belakang layar yang memiliki sumbangsih yang besar selain desainer? Dan apa hubungannya dengan forecasting yang dibahas di awal? Jawabannya adalah rangkuman dari dua pertanyaan tersebut. Perusahaan forecast atau para fashion forecaster lah yang berperan besar dalam semua itu.

Pabrik kain perlu mengetahui warna – warna apa yang akan menjadi trend, dan motif bagaimana yang akan disukai para desainer dan pabrik pakaian. Pabrik pakaian dan para desainer perlu mengetahui bagaimana selera konsumen dan trend yang akan sukses di pasaran. Para buyer dan merchandiser perlu mengetahui produk – produk seperti apa yang akan membuat penjualan di butik , toko, atau dept. store mereka meningkat, serta produk – produk seperti apa yang akan dan perlu untuk di stock. Para konsumen perlu mengetahui trend – trend apa yang akan heboh di musim ini, termasuk rancangan dan style seperti apa yang akan menjadi favorit. Sekarang anda mengerti mengapa forecaster itu berperan besar?

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mereka melakukannya? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan sekaligus menjelaskan pernyataan sebelumnya tentang 'memastikan trend tersebut laris manis, itu yang sulit'.

Para forecaster yang bergabung dengan perusahaan forecaster itu, menganalisa semua informasi tentang fashion apparel yang ada di muka bumi ini. Ini apabila fokus mereka adalah secara internasional. Biasanya terbagi lagi secara regional misalnya trend di Eropa, di US, di Asia Tenggara, dan lainnya tergantung bagaimana pembagian mereka. Dan dari sini dibagi – bagi lagi menjadi trend setiap kotanya, misalnya trend di Jakarta dan Bandung tentu berbeda, lalu dianalisa lagi melalui ras, golongan, dan sebagainya. Kemudian mereka juga mengumpulkan informasi fashion show dari seluruh dunia, majalah, rekap penjualan dari dept. store – dept. store terkemuka, website- website fashion dunia, dan sebagainya. Dari sini mereka bisa menganalisa apa yang tinggi penjualannya dan apa yang tidak. Apa yang disukai oleh masyarakat daerah ini dan apa yang tidak. Dan dengan pengumpulan data selama bertahun – tahun, bisa dianalisa siklus perputaran mode beserta perubahan – perubahan yang mendominasi untuk tahun berikutnya.

Mereka juga mengumpulkan para fashion talent yang selalu mencari tahu style – style original dari masyarakat daerah tertentu. Mereka menganalisa perubahan masyarakat, pandangan sosial, kultur, dan lainnya. Hal ini dilakukan secara terus menerus dan berkala, hingga mereka menemukan suatu formulasi untuk menentukan trend yang akan datang secara garis besar, dan sisanya merupakan adaptasi mereka terhadap apa yang sedang bergulir dan berlaku secara sosial dalam masyarakat. Jadi secara garis besar dan sebagai permukaan yang paling luar, para fashion forecaster melakukan analisa fashion berdasarkan data – data fashion secara personal, sosial, culture, demographic, sosiographic, dan geographic yang terus menerus di update, berikut memperkirakan dan menilai segala gejala fashion yang akan berubah sewaktu – waktu.

Dengan begitu, apabila ada sebuah perusahaan Indonesia misalnya, yang ingin membuka usahanya di Dubai atau di London, mereka dapat menggunakan jasa perusahaan (atau perseorangan) fashion forecaster ini untuk memperkirakan produk – produk apa yang sebaiknya dijual di Dubai, dan selera orang – orang di sana seperti apa, sistem penjualan seperti apa yang harus digunakan dan lainnya. Perusahaan forecaster yang bagus biasanya disertai dengan divisi marketing strategy nya, di mana mereka juga bisa memprediksikan strategi terbaik yang bisa digunakan untuk setiap daerah dan komunitas tertentu.

Sampai di sini, saya rasa anda sudah bisa mengerti mengapa saya katakan semua ini tidak semudah apa yang terlihat. Ada banyak research yang dilakukan, ada banyak profesional di bidangnya yang dilibatkan, dan ada banyak elemen yang dipakai untuk menentukan sesuatu menjadi berhasil dan menjadi trend. Dan forecasting itu jelas sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar “trend musim depan warna – warna carnaval”, karena melibatkan keseluruhan industri yang ada.

Sebagian dari anda yang mungkin bergerak di bidang fashion skala kecil atau menengah mungkin akan berkata, “Ah itu kan untuk skala besar, kalau skala kecil seperti saya mah ga usah pake begitu-begituan deh”. Bahkan ada seorang teman saya yang berprofesi sebagai seorang desainer yang menanyakan “Memang forecasting doank berguna?” dan saya katakan, “Tunggu sampai kamu melihat angka – angka biru di pembukuan kamu yang merupakan angka – angka hasil dari penghematan stock barang yang salah dan berlebihan, pemasukan dari penjualan yang berputar dengan cepat karena prediksi fashion yang benar, cashflow yang sehat, dan jumlah customer loyal yang datang dan bertambah karena merasa cocok dengan style fashion yang kamu tawarkan. Dan saat itu saya ingin menanyakan kembali apakah fashion forecasting itu tidak berguna?”

Tentu saja untuk usaha skala kecil dan menengah tidak perlu lah mempekerjakan perusahaan forecaster, karena biaya yang dikeluarkan tidak akan tanggung – tanggung. Tapi cukuplah mempekerjakan seorang forecaster atau team forecaster yang memiliki kemampuan di bidangnya secara profesional. Atau apabila anda memang betul – betul bergerak di skala kecil dan budget anda sangat pas, usahakan untuk melakukan forecasting sendiri minimal untuk satu musim ke depan. Caranya? Kumpulkan majalah dan informasi fashion sebanyak mungkin. Walaupun mungkin forecasting anda tidak 99% akurat, tapi minimal 50% akurat pasti bisa. Dan saya sangat yakin 50% akurasi dalam forecast anda, sudah akan sangat membantu cashflow usaha fashion anda.

Apabila anda masih penasaran dengan apa yang akan terjadi dengan fashion forecasting yang memiliki 99% akurasi, maka bayangkanlah sebuah brand ternama yang bisa anda ingat, yang memiliki ratusan cabang di seluruh dunia, menjual produk pakaian dengan harga yang termasuk kategori barang mewah. Tidak tidak, jangan pikirkan mengenai pemasukannya, tetapi pikirkan mengenai berapa besar tax yang harus dibayarkannya, kemudian berapa besar pemasukan negaranya dari devisa dan tax yang dibayarkan oleh satu brand itu. Sudah terbayang? Sekarang kalikan dengan seratus saja. Sebagaimana satu negara memiliki seratus brand seperti itu. Sudah terbayang? Itulah hasil dari 99% akurasi: Perancis- kiblat fashion dunia.

1 komentar:

Dwi Sulistiyani mengatakan...

Hallo.. Punya karya desain yang keren2 tapi bingung dimana kamu bisa share di komunitas yang tepat? Bagikan saja desain kamu di fitinline.com/. Gratis!